Selasa, 25 September 2012

EVALUASI PENDIDIKAN


EVALUASI PEMBELAJARAN


A.    Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari sebenarnya kita sering membuat suatu kegiatan evaluasi dan selalu menggunakan prinsip mengukur dan menilai. Namun, banyak orang belum memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian bahkan masih banyak orang yang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut dengan suatu pengertian yang sama.
Secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktivitas mengukur biasanya sudah termasuk di dalamnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.
Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru.
Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian. Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi pembelajaran dibedakan atas evaluasi diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Bila ditinjau dari sasarannya, evaluasi pembelajaran dapat dibedakan atas evaluasi konteks, input, proses, hasil dan outcom.
Proses evaluasi dilakukanmelalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil danpelaporan

B.     Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

Untuk memahami pengertian evaluasi, pengukuran dan penilaian kita dapat memahaminya lewat contoh berikut:
Apabila ada seseorang yang memberikan kepada kita 2 pensil yang berbeda ukuran ,yang satu panjang dan yang satu lebih pendek dan kita diminta untuk memilihnya, maka otomatis kita akan cenderung memilih pensil yang panjang karena akan bisa lebih lama digunakan. Kecuali memang ada kriteria lain sehingga kita memilih sebaliknya.
Peristiwa menjual dan membeli di pasar. Kadang kala sebelum kita membeli durian di pasar, sering kali kita membandingkan terlebih dahulu durian yang ada sebelum membelinya. Biasanya kita akan mencium, melihat bentuknya, jenisnya ataupun tampak tangkai yang ada pada durian tersebut untuk mengetahui durian manakah yang baik dan layak dibeli.
Dari kedua contoh diatas maka dapat kita simpulkan bahwa kita selalu melakukan penilaian sebelum menentukan pilihan untuk memilih suatu objek/benda. Pada contoh pertama kita akan memilih pensil yang lebih panjang dari pada pensil yang pendek karena pensil yang lebih panjang dapat kita gunakan lebih lama. Sedangkan pada contoh yang kedua kita akan menentukan durian mana yang akan kita beli berdasarkan bau, bentuk, jenis, ataupun tampak tangkai dari durian yang dijual tersebut. Sehingga kita dapat memperkirakan mana durian yang manis.
Untuk mengadakan penilaian, kita harus melakukan pengukuran terlebih dahulu. Dalam contoh 1 di atas, jika kita mempunyai pengaris, maka untuk menentukan pensil mana yang lebih panjang maka kita akan mengukur kedua pensil tersebut dengan menggunakan pengaris kemudian kita akan melakukan penilaian dengan membandingkan ukuran panjang dari masing-masing penggaris sehingga pada akhirnya kita dapat mengatakan bahwa “Yang ini panjang” dan “Yang ini pendek” lalu yang panjanglah yang kita ambil.
Dalam contoh yang ke 2, kita memilih durian yang terbaik lewat bau, tampak tangkai, maupun jenisnya. Hal itu juga diawali dengan proses pengukuran dimana kita membanding-bandingkan beberapa durian yang ada sekalipun tidak menggunakan alat ukur yang paten tetapi berdasarkan pengalaman. Barulah kita melakukan penilaian mana durian yang terbaik berdasarkan ukuran yang kita tetapkan yang akan dibeli.
Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa dalam proses penilaian kita menggunakan 3 ukuran, yakni ukuran baku (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya), ukuran tidak baku (depa, jengkal, langkah, dan sebagainya) dan ukuran perkiraan yakni berdasarkan pengalaman.
Langkah–langkah mengukur kemudian menilai sesuatu sebelum kita mengambilnya itulah yang dinamakan mengadakan evaluasi yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan evaluasi sebelum melakukan aktivitas mengukur dan menilai.
Berdasarkan contoh diatas dapat kita simpulkan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi sebagai berikut :
Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat kuantitatif.
Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Sedangkan
Evaluasi adalah kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian

Evaluasi Dalam Pembelajaran

Secaran Etimologis evaluasi berasal dari bahasa Inggris, “Evaluation” yang berarti penilaian terhadap sesuatu Menurut Werington secara singkat merumuskan bahwa “an Evaluation a declaration that something hes or does not have values”. Artinya bahwa evaluasi dapat diberlakukan pada bidang yang amat luas.
Adapun pengertian evaluasi dalam pendidikan adalah “Merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisa, dan menafsirkan data tentang kegiatan dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

In Put, Transformasi, Out Put

Unsur-unsur Objek Evaluasi Pendidikan
1. Input
Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup 4 hal.
a. Kemampuan
Untuk dapat mengikuti program dalam suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon siswa harus memiliki kemampuan yang sepadan. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini disebut tes kemampuan atau attitude test.
b. Kepribadian
Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Dalam hal-hal tertentu, informasi tentang kepribadian sangat diperlukan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut tes kepribadian atau pesonality test.
c. Sikap-sikap
Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol an sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka banyak orang yang menginginkan informasi khusus tentangnya. Alat untuk mengukur keadaan sikap seseorang dinamakan tes sikap atau attitude test. Oleh karena tes ini berupa skala, maka lalu disebut skala sikap atau attitude scale.
d. Inteligensi
Untuk mengetahui tingkat inteligensi ini digunakan tes inteligensi yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Dalam hal ini yang terkenal adalah tes buatan Binet dan Simon yang dikenal dengan tes Binet-Simon. Selain itu ada lagi tes-tes yang lain misalnya SPM, Tintum, dan sebagainya. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intelligence Quotient) orang tersebut.
2. Transformasi
Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian antara lain:
Kurikulum/materi
Metode dan cara penilaian
Sarana pendidikan/media
Sistem administrasi
Guru dan personal lainnya
3. Output
Penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian/prestasi belajar mereka selama mengikuti program. Alat yang digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes pencapaian atau achievement test.
Kecenderungan yang ada sampai saat ini di sekolah adalah bahwa guru hanya menilai prestasi belajar aspek kognitif atau kecerdasan saja. Alatnya adalah tes tertulis. Aspek psikomotorik, apalagi afektif, sangat langka dijamah oleh guru. Akibatnya dapat kita saksikan, yakni bahwa para lulusan hanya menguasai teori tetapi tidak terampil melakukan pekerjaan keterampilan, juga tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Lemahnya pembelajaran dan evaluasi terhadap aspek afektif inim jika kita mau introspeksi, telah berakibat merosotnya akhlak para lulusan, yan selanjutnya berdampak luas pada merosotnya akhlak bangsa.

C. Fungsi, Tujuan Sasaran dan Umpan Balik

Fungsi Umum Dan Fungsi Khusus

Selain memiliki banyak tujuan, evaluasi juga memiliki berbagai macam fungsi, sesuai dengan ragam evaluasi itu sendiri. Akan tetapi, secara garis besar fungsi-fungsi tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu fungsi secara umum dan fungsi secara khusus. Secara umum evaluasi berfungsi untuk:
1. mengukur kemajuan (atau perkembangan program yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah dirumuskan).
2. menunjang penyusunan rencana -evaluasi- (jika dalam pelaksanaannya terdapat kejanggalan-kejanggalan yang mengharuskan adanya re-planning).
3. memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali. (perbaikan usaha tanpa didahului oleh kegiatan evaluasi adalah tidak mungkin. Karena untuk mengadakan perbaikan harus diketahui apa yang harus diperbaiki, dan untuk mengetahuinya itu lewat evaluasi)
Adapun secara khusus evaluasi berfungsi:
1. segi psikologis:
Bagi siswa: menunjukkan kapasitas / status diri siswa di kelasnya (apakah termasuk siswa yang pandai, sedang, atau bodoh).
Bagi guru: menginformasikan seberapa jauh usaha yang dilakukan guru sudah membawa hasil.
2. secara didaktik
Bagi siswa: memberi motivasi bagi siswa dalam meningkatkan belajarnya.
Bagi guru:
a. sebagai diagnostik (mencari kelemahan siswa di dalam mengikuti pembelajaran.
b. menginformasikan tetang di mana siswa harus diposisikan (pembagian kelas A, B, C).
c. penentuan naik / lulus atau tidaknya siswa.
d. menjadi pertimbangan dalam memberikan bimbingan: bagaimana belajar yang baik, mengatur waktu dan lain-lain.
e. menginformasikan sejauhmana program pengajaran yang telah ditentukan sudah dicapai
3. secara administratif:
a. memberikan laporan (mengisi raport, KHS)
b. memberikan data tentang siswa layak dinaikkan / diluluskan atau tidak.
3. memberikan gambaran (bidang-bidang tertentu maju dan bidang-bidang yang lain kurang).

            Tujuan umum dan tujuan khusus

Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Menurut Anas (1995), tujuan evaluasi pendidikan terdiri atas dua:
1. Tujuan umum
Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua, yaitu:
a. Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b. Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
2. Tujuan khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah:
a. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan. Tanpa adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau rangsangan pada diri peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing-masing.
b. Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.

Sasaran Evaluasi/Penilaian

Sasaran penilaian mencakup tiga domain, yaitu Kognitif, afektifitas, Psikomotorik. Masing-masing domain dapat dirinci sebagai berikut :
1. Domain Kognitif, yang ranah perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman. Domain ini meliputi :
a. Pengetahuan, b. Pemahaman, c. Penerapan, d. Analisa, e. Sintesis, f. Evaluasi
2. Domain afektif, yaitu ranah keyakinan yang mantap (dalam agama).7 Domain ini meliputi :
a. Penerimaan, b. Parisipasi, c. Penentuan sikap penilaian, d. Organisasi, e. Pembentukan Pola hidup.
 
Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1956772-evaluasi-pendidikan/